• +62 811 444 694
  • admin@globalindokonsultama
  • Makassar City, Indonesia

Obsesi Adaptasi New Normal Pasca Pandemic

Oleh : Dr. Jusman

Awalnya, istilah New Normal hanya menjadi bahasan dalam dunia bisnis dan ekonomi. Roger McNamee, seorang investor teknologi, yang lebih awal mempublikasikan dalam bukunya The New Normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk (2005).

Empat karakteristik dari apa yang mereka juluki “Normal Baru” termasuk munculnya kekuatan baru secara individual (sebagai lawan dari kekuatan kelembagaan model lama);  muncul banyaknya pilihan;  berkembangnya peluang dari konvergensi teknologi dan globalisasi;  dan waktu yang terbatas — dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

Everything old is new again, including normality (Catherine Rampell, 2011), new normal sebagai kata yang banyak di gunakan pada keadaan krisis ekonomi, Adapun Obsesi munculnya istilah “new normal” ini mengadaptasi berbagai momentum baik berupa keadaan bencana atau suatu keadaan krisis, karena meskipun demikian, kayakinannya bahwa semuanya akan surut pada akhirnya kembali ke tren jangka panjangnya, atau menurut Professor Laibson (Yale economist Irving Fisher) sebagai permanently high plateau.

Istilah New Normal muncul dan hangat dibicarakan di Indonesia pada masa pendemi covid-19 merebak, tepatnya setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif. “Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk menganas risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru”.

Menurut Profesor Yohanes Eko Riyanto dari Nanyang Technological University Singapore situasi nantinya pasca-Covid 19 disebut The New Normal. Perubahan perilaku yang terjadi sama Covid-19 akan menciptakan situasi dan pembentukan tatanan ekosistem baru yang terkoneksi dengan perangkat digital dan internet. “Perubahan perilaku pengguna handphone, laptop, dan segala macam yang basis konsumsinya adalah media sosial,” ujarnya dalam diskusi live secara daring bertema The New Normal di Youtube, Sabtu (2/4/2020).

Pemerintah telah menerbitkan protokol normal baru (new normal) bagi perkantoran dan industri dalam menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19 yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan. Implementasi New Normal diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.  Selanjutnya Penerapan PSBB telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada Selasa (31/3/2020). Detail teknis dan syarat-syarat mengenai PSBB dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang ditandatangani oleh Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto. Namun Data saat ini berbagai website info covid 19 baik nasional dan pusat menunjukkan angkat yang terus bertambah dan kecenderungan grafik nanjak terus, masih masih tingginya penularan dan penyebaran Virus Covid-19 tidak dibarengi dengan praktik yang disiplin oleh warga masyarakat, sebagian warga masyarakat menyatakan mulai jenuh melakukan physical distanding, perbedaan pendapat tentang metode pencegahan penularan COVID-19, dampak horisontal dan vertikal kebijakan terhadap sosial ekonomi lainnya.

Media opini ini penulis melihat perlunya berbagai Pihak berkolaborasi dan bersinergi dengan kemampuan masyarakat membangun system thinking yang lebih komprehensif, ringkas, yang bersifat antisipatif terjadinya gelombang baru (a scond wafe of caronivarus) penularan pendemic, untuk beradaptasi pada tatanan the new normal. Namun saat ini kita Menghadapi banjir pilihan, social interst, membuat keputusan yang tak terhitung banyaknya. McNamee mengklarifikasi, “
Hanya segelintir dari keputusan ini yang benar-benar penting. Sisanya tidak perlu dikhawatirkan. Untuk membridging teknik pengambilan keputusan dan kebijakan masa pendemic covid-19 lebih tertarik pada penyusunan policy brief.

Menurut WHO, 2011. Policy Brief Bertujuan mendorong perubahan kebijakan dan/atau program.  These policy briefs begin with a description of a policy problem, then summarise the best available evidence to clarify the size and nature of the problem, describe the likely impacts of key options for addressing the problem, and inform considerations about potential barriers to implementing the options and strategies for addressing these barriers.

Policy brief sebagai system thinking untuk memetakan target audiens/pesannya, mengenali prefensi nilai dan lingkungan eksternal yang mempengaruhi preferensi dan prioritas evidence yang akan disampaikan dengan ringkas serta penggunaan bahasa dan struktur bahasa yang efektif.

Tujuan policy brief Pelakasanaan PSBB Kota Makassar, hemat kami bertujuan untuk menjawab pertanyaan, antispasi gelombang baru (a scond wave of coronavirus) melalui protokol new normal diantaranya;  1). bagaimana pemerintah menerapkan protokol new normal dalam rangka pemulihan ekonomi yang terintegrasi atau tindakan aksi cepat refokusing pelaksanaan rehabilitasi pasca pendemic dampak covid-19, 2). indikator pencapaian protokol standar hidup normal yang baru (new normal life) dan new protokol social distancing, 3). bagaimana pemerintah melakukan sinergi kebijakan pemerintahan secara horisontal atau vertikal (pemerintah kab/kota dengan pusat), 4). mendorong peningkatan kapasitas pemanfaatan sistem birokrasi dan terpercaya atas setiap layanan pemerintahan berbasis secara online dan terintegrasi,  5). antisipasi dampak sosial lainnya di masyarakat melalui sistem ketahanan pangan, ketahanan imun (high immunity),  infrastruktur teknologi informasi, sistem politik dan social interest lainnya, serta 6). program perbaikan ketagguhan masyarakat (kemandirian) dan pemerintah dalam menghadapi berbagai resiko (governance risk managament).